Kenapa Harus Monolog Menjaring Malaikat?

BERANGKAT dari kegelisahan orang-orang di sekitar kita –yang notabene adalah bagian dari rakyat negeri, kami mencermati bahwa rakyat yang acap pula disebut dengan julukan ‘wong cilik’ ini hanya diposisikan sebagai obyek penderita oleh pemegang kekuasaan.

Kemudian ketika ditarik waktu ke belakang, ada satu kesimpulan yang menunjukkan bahwa pemosisian wong cilik hanya sekadar sebagai ‘obyek penderita’ ini sejatinya telah berlangsung dalam kurun waktu lama, bahkan seolah telah menjadi “budaya” (dalam tanda kutip).

Jamaluddin Latif “Menjaring Malaikat”
Dengan latar belakang seperti itu, kami memilih cerita pendek yang ditulis Danarto pada tahun 1975 sebagai materi awal untuk dialih-wahanakan dalam seni pertunjukan. Cerpen yang telah berusia lebih dari empat dasa warsa itu memberikan representasi akan lamanya waktu sebuah karya, sebagaimana lamanya kegelisahan rakyat negeri ini akibat ulah penguasa.  Sedangkan indikator yang kami peroleh dari menganalisa adanya ‘rasa gelisah, salah satunya adalah korupsi, yaitu satu tindak kejahatan yang sesungguhnya sama sekali tak bisa diampuni, namun hingga sekarang justru tampak semakin  jelas mengguritanya di negeri ini.

Pada akhirnya, pementasan ‘Menjaring Malaikat” yang merupakan interpretasi naskah cerpen berjudul “Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” menjadi karya Jaring Project yang disuguhkan kepada khalayak dalam bentuk teater monolog, dengan aktor Jamaluddin Latif, sutradara Ibed Suragana Yuga, dan penulis naskah Desi puspitasari. [uth]