Pameran Tunggal Seratan Luru Raos karya Astuti Kusumo

ASTUTI KUSUMO lahir di Yogyakarta pada taun 1970. Sedari kecil ia menyenangi kegiatan berkesenian. Namun, pada saat dewasa ia tak memilih menekuni bakat seninya tersebut. Ia kuliah mengambil jurusan Ekononi di UPN. Hingga beberapa tahun kemudian, ia kembali menyalurkan hasrat berkeseniannya dengan melukis.

Astuti Kusumo menyebut kegiatan berkesenian ini sebagai langkah upaya mensyukuri, merawat, dan memperjuangkan talenta yang telah diberikan oleh Tuhan.

Seratan Luru Raos | Astuti Kusumo

Pameran lukisan tunggal Astuti Kusumo merupakan catatan perjalanan belajar dan berproses kreaif dalam berbagai bahan dan media seni.

Secara bahasa, luru memiliki arti berburu. Astuti Kusumo mengartikan luru dalam bahasa Jawa yang kontekstual luru bisa diartikan sebagai belajar atau kegiatan memburu ilmu. Sementara raos sendiri tak hanya sekadar merasakan indera, tapi juga merasakan perihal yang terkadang tak bisa disentuh secara nyata; mengembangkan rasa dan sikap empati.

Kurator pameran Seratan Luru Raos, Kuss Indarto, menyebutkan lukisan-lukisan Astuti Kusumo hampir selalu bercerita tentang perempuan, padahal sang seniman sendiri bukanlah aktivis feminis.

Setelah ditelusuri lagi, ‘feminisme’ dalam karya-karya sang seniman sebenarnya berangkat dari pengalamannya pribadi. Salah satunya contohnya keadaan Astuti Kusumo yang seorang single parent. Maka, tak heran bila dalam lukisan-lukisan yang mengangkat tema perempuan selalu terdapat pesan tersirat mengenai heroisme atau sifat heroik. Dalam satu waktu, ada dua sifat dalam diri perempuan; sosok feminitas yang juga maskulin.

Pernyataan Kuss Indarto juga seolah diiyakan oleh sang seniman. Astuti Kusumo menyatakan bahwa perjalanan hidupnya yang pahit dan getir yang ia rasakan, mampu memberinya kepekaan batin, imajinasi, perenungan. Sehingga lahirlah ide-ide berkarya yang dari seluruh karya tersebut diharapkan oleh Astuti Kusumo sebagai puncak titik tertinggi perwujudan raos dalam dirinya. Raos yang termaktub dalam tema yang diangkat Astuti Kusumo dalam pameran tunggalnya mencakup raos angan, raos sedih, raos gembira, dan juga raos kegelisahan.

Romo Shindunata dalam pembukaannya menyatakan bahwa sekarang ini banyak manusia kehilangan raosnya, banyak kehilangan jenis-jenis raos yang telah diangkat di dalam karya Astuti Kusumo. Terlebih-lebih dalam kondisi politik negeri yang semakin karut-marut ini.

Melalui pameran Serat Luru Raos diharapkan para pengunjung mampu menilik kembali raos-raos di dalam dirinya yang telah hilang. Akan lebih baik lagi jika kemudian mampu memiliki raos-raos itu kembali.

Seniman Perempuan yang Berani

Luru raosMeski pernah mendapat penghargaan silver medal sebagai pemenang dalam kontes Shankar India, Astuti Kusumo tak lantas menekuni bidang seni yang dikerjakannya sedari kecil.

Selepas SMA, sang seniman ini malah kuliah mengambil jurusan Ekonomi di UPN Jogja. Setelah lulus, Astuti Kusumo bekerja sebagai banker hingga mencapai posisi yang cukp mapan. Justru di tengah kemapanannya itu, Astuti Kusumo meninggalkan duninya yang nyaman demi kembali tercebur dalam dunia seni rupa. Ia tak punya bekal, ia hanya memiliki niat dan seberkas bakat.

Menurut Kuss Indarto, sang kurator pameran tunggal Seratan Luru Raos, Yogyakarta adalah wadah yang tepat, kota ini merupakan kawah Candradimuka yang pas untuk menggodok Astuti Kusumo. Sekaligus menguji ketahanan sang seniman dalam berkarya.

Pameran tunggal pertama Astuti Kusump merupakan momentum penting untuk menguatkan pernyataan ketekunan berkeseniannya. “Dengan lukisan ini, ingin kubeberkan raos: raos angan, raos sedih, raos gembira/suka maupun raos kegelisahan. Semoga raosku bisa kubaca sendiri sebagai refleksi atas hidupku. Kucoba juga temui Gusti melalui raos.” [dps]

Keterangan:
Pameran Seratan Luru Raos karya Astuti Kusumo
Berlangsung pada tanggal 21 – 28 April 2017
Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta

 

 

 

One thought on “Pameran Tunggal Seratan Luru Raos karya Astuti Kusumo

Comments are closed.